Portofolio Hari Kedua (one day one article)


Materi 1: Perguruan Tinggi di Era Digital dan Revolusi Industri
   
     Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri mengalami transformasi besar dalam cara mereka berfungsi, mengajar, dan berinteraksi dengan mahasiswa serta masyarakat. Berikut adalah beberapa aspek utama dari perubahan tersebut: 
1.Pembelajaran Digital dan Online: Penggunaan platform e-learning, dan webinar memungkinkan akses pendidikan yang lebih luas dan fleksibel. Mahasiswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja, meningkatkan inklusivitas dan efisiensi.
2.Kurikulum Berbasis Teknologi: Integrasi teknologi terbaru seperti kecerdasan buatan, big data ke dalam kurikulum. Perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi otomasi, robotika, dan analitik data. Fokus pada soft skills seperti kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah.

    Kolaborasi dan Kemitraan Global, kemitraan dengan institusi internasional, perusahaan teknologi, dan startup untuk inovasi dan riset bersama. Program pertukaran mahasiswa dan dosen secara virtual maupun fisik. Penggunaan Learning Analytics untuk memonitor kemajuan mahasiswa dan meningkatkan proses pembelajaran. Peran Perguruan Tinggi sebagai Inovator dan Penggerak Revolusi industri. Perguruan tinggi tidak hanya mengajar tetapi juga menjadi pusat inovasi dan penelitian terapan. Secara keseluruhan, perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri harus mampu beradaptasi dengan cepat agar tetap relevan dan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten di era yang penuh perubahan ini.

Materi 5: Generasi Muda Berintegritas Anti Korupsi

    Korupsi adalah kanker yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia merampas hak-hak rakyat, menghambat pembangunan, dan merusak kepercayaan publik. Melawan korupsi bukan hanya tugas aparat penegak hukum atau pemerintah, tapi tanggung jawab kolektif seluruh rakyat Indonesia. Generasi muda adalah kunci dan harapan terbesar dalam membangun Indonesia yang bebas korupsi. Mengapa Generasi Muda Sangat Penting? Masa Depan Bangsa: Generasi muda akan menjadi pemimpin, profesional, dan warga negara yang menentukan arah Indonesia di masa depan. Nilai integritas yang ditanamkan sejak dini akan menjadi fondasi bagi kepemimpinan yang bersih.

Energi dan Inovasi: Generasi muda memiliki energi, kreativitas, dan penguasaan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sistem transparan, mengawasi penyelenggara negara, dan mengembangkan solusi anti korupsi yang inovatif.

Pola Pikir Kritis: Generasi muda cenderung lebih kritis, terbuka terhadap perubahan, dan memiliki idealisme yang tinggi. Ini adalah modal penting untuk menantang status quo dan budaya korupsi yang mengakar.

Agen Perubahan (Agent of Change): Sebagai generasi yang akan hidup lebih lama, generasi muda memiliki kepentingan langsung untuk mewarisi Indonesia yang lebih baik, adil, dan sejahtera, bebas dari praktik korupsi.

Integritas: Senjata Utama Generasi Muda. 

Integritas adalah fondasi utama perang melawan korupsi. Bagi generasi muda, integritas berarti:

Kejujuran: Selalu berkata jujur dan bertindak jujur, dalam situasi apapun, baik di depan umum maupun di ruang privat. Tidak ada "kebohongan putih" dalam konteks integritas.

Konsistensi: Antara kata dan perbuatan selalu sejalan. Prinsip yang dipegang tidak berubah bergantung pada situasi atau tekanan.

Tanggung Jawab: Memiliki rasa memiliki terhadap tugas dan peran. Menyelesaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya tanpa mengharap imbalan yang tidak semestinya.

Keadilan: Memperlakukan semua orang secara adil, tanpa pandang bulu, dan tidak menggunakan jabatan atau kekuasaan untuk keuntungan pribadi atau golongan.

Keberanian: Berani mengatakan "TIDAK" pada tawaran suap, gratifikasi, atau praktik koruptif lainnya. Berani melaporkan penyimpangan yang dilihat (whistleblowing).

Kemandirian: Tidak bergantung pada pemberian atau fasilitas yang tidak sah untuk mencapai tujuan. Berjuang dengan kemampuan sendiri.

     Bagaimana agar generasi muda bisa menjadi garda terdepan anti korupsi? Yaitu dengan menanamkan nilai integritas, jadikan integritas sebagai kompas dalam setiap tindakan, sekecil apapun. Jujur dalam ujian, tidak mencontek, tidak meminjam tanpa izin, mengembalikan barang temuan. Tolak praktik kecil yang mengarah ke korupsi, menolak pungutan liar (pungli), tidak menggunakan koneksi untuk mempercepat urusan, tidak memberi atau terima hadiah yang bisa mempengaruhi keputusan, hidup sederhana dan bertanggung jawab, kelola keuangan pribadi dengan bijak, hindari gaya hidup konsumtif yang mendorong mencari jalan pintas.

    Generasi muda Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi agen perubahan sejati dalam memerangi korupsi. Integritas bukan hanya pilihan, tapi keharusan. Dengan membangun dan menjunjung tinggi integritas sejak dini, generasi muda dapat membentengi diri dari godaan korupsi dan menjadi garda terdepan dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan transparan.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya." (Ir. Soekarno) - Dan pahlawan anti korupsi masa kini dan masa depan adalah generasi muda yang berintegritas!

Materi 6: Mahasiwa UNUSA Sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah

    Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) secara inheren diposisikan sebagai penerus dan pewaris tradisi keilmuan serta keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, mengingat universitas ini didirikan dan berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU) organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan utama paham Aswaja An-Nahdliyah. Berikut penjelasan mendalam mengenai peran dan karakteristik mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah:

    Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah? Aswaja (Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas. An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah). Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual. Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU. 

    Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak  seperti terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan), mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi). Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan. Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern, seperti dapat mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam, menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja. Mahasiswa UNUSA bukan sekadar penuntut ilmu, melainkan kader peradaban yang dituntut untuk bisa menginternalisasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah dalam kehidupan pribadi, mengimplementasikan prinsip moderat, toleran, dan maslahah dalam bermasyarakat, mengembangkan tradisi intelektual NU untuk menjawab tantangan zaman.


Web Universitas: https://unusa.ac.id/

Web Fakultas Keperawatan dan Kebidanan: https://fkk.unusa.ac.id

Instagram: https://www.instagram.com/unusa_official/

Youtube: https://www.youtube.com/@unusa_official

Twitter ( X ): https://x.com/unusa_official?lang=en

TikTok: https://www.tiktok.com/@unusa_official

Link blog teman kelompok 25:

sarasalsabilah

amaliadiva684

Shegita Putri Devina_Surabaya_18 Tahun

Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

Prodi D-III Keperawatan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume: Unusa Konsisten Berikan Pengalaman Berbeda Bagi Camaba

Mengapa Saya Memilih Prodi D-III Keperawatan?

Portofolio Hari Pertama (one day one article)